Kamis, 15 Januari 2015

Tugas Dasar Periklanan



Resepsi Penonton Terhadap Iklan Bergenre Erotis

A.    PENDAHULUAN
Jagat iklan semakin meraih masa keemasannya. Di tengah gencarnya para pebisnis dalam memajukan eksistensi mengenai produknya, tentu lah promosi menjadi bagian dari hal tersebut. Seperti kita ketahui bahwa promosi dapat dilakukan melalui pemasangan iklan, Itu sebabnya mengapa pengiklan tidak ada hentinya menuai ide-ide kreatif untuk  membuat pebisnis “melirik” dan akhirnya menjadi awal datangnya kocek bagi kantong perusahaan iklan. Pada dewasa ini, iklan umumnya sudah bukan menjadi bagian dari kepentingan promosi saja, iklan yang dikemas dengan berbagai bentuk dapat memungkinkan para audien menginterpretasikan sendiri mengenai makna yang ada dalam iklan tertentu. Apabila diamati, fungsi iklan mulai mengalami pergeseran, fungsi komersial yang menjadi tujuan utama dari suatu iklan sudah memiliki ekor-ekor lain. Hal ini tanpa disadari sudah diadopsi sebagai komposisi baru dalam sebuah iklan, bagaimana unsur-unsur lain seperti permasalahan gender, hedonisme, erotisme, status sosial dan lain sebagainya seringkali dapat kita lihat pada iklan tertentu.
Salah satu permasalahan dampak iklan yang dapat kita cium aromanya adalah erotisme. Erotisme adalah keinginan nafsu seks secara terus menerus yang didasari oleh libido (Hoed, 2001:189). Media seolah mengenalkan wajah baru mengenai seksualitas dalam iklan. Berbicara tentang seksualitas dan erotisme, kita diingatkan akan asumsi bahwa hal tersebut ada kaitannya dengan perempuan. Perempuan yang dianggap sebagai sumber pemacu hasrat seksual kadang disalahkan mengapa perilaku keji (baca : pemerkosaan) selalu disebabkan karena kesalahan dari kaum perempuan itu sendiri. Serentak dengan kasus pemerkosaan, biasanya muncul juga berbagai hujatan atau penghakiman bahwa penyebab kasus pemerkosaan dikarenakan cara berpakaian si perempuan yang kurang pantas lah, perilaku agresif si perempuan lah dan lain-lain. Sisi itu lah yang seringkali diperlihatkan oleh iklan, bagaimana perempuan bermain di layar kaca dengan melakukan adegan-adegan sensual disertai cara berpakaian yang minim memang menjadi salah satu faktor mengapa pemerkosaan disebabkan karena perilaku perempuan itu sendiri. Tayangan televisi berbau vulgar dan sensual berbintang perempuan yang bisa diakses melalui alat visual menyebabkan kaum lelaki terangsang akan hal tersebut, sehingga lelaki mencoba untuk menumpahkan hasrat tersebut melalui apa pun, bahkan ketika hasrat mereka tidak terbendung maka bisa jadi perempuan lah yang menjadi objek pelampiasan sehingga terjadilah perilaku tercela atau pemerkosaan. Tentu semuanya dinilai wajar apabila yang mengkonsumsi tayangan itu berasal dari kalangan “cukup umur”, tetapi media menempatkan iklan pada kemungkinan-kemungkinan yang dapat diakses juga oleh kalangan dibawah umur, sehingga jika tidak adanya pengawasan yang ketat akan menyebabkan munculnya hal yang tidak diinginkan.
Salah satu unsur yang sering dipakai pemasar adalah seks. Sensualitas telah menjadi hal penting dalam pemasaran, sehingga tidak heran bahwa bintang iklan dikonstruk oleh stakeholder untuk berperilaku dan berpenampilan yang tidak biasa. Dari penggunaan model yang seksi, kata-kata yang merangsang juga pesta buka-bukaan (Gumelar, 2011:67). Bintang iklan itu terdiri dari perempuan dan lelaki yang telah dimanfaatkan oleh kapitalisme untuk mencapai keuntungan. Tetapi hal ini lebih berat kepada peran perempuan yang mendominasi dalam dunia periklanan. Tubuh perempuan yang mulanya memiliki ranah privat mengalami pergeseran menjadi publik, tetapi hal yang dinilai sebagai bentuk kebebasan perempuan dalam berekspresi justru semakin menjadi penjelas bahwa perempuan memang objek seks, seksisme karenanya menjadi semakin kuat. Sehingga akhir yang ada dari itu semua adalah dampak iklan erotis yang pelan-pelan mendekati benak para audien.
Kita tidak bisa menyalahkan kebutuhan biologis seseorang yang datang tiba-tiba sampai tidak bisa dikontrol akan hasratnya, entah perempuan maupun lelaki. Perempuan dan lelaki adalah mahluk yang mempunyai kebutuhan biologis, dan kebutuhan biologis bisa terpenuhi lewat seks. Yang jadi permasalahan, bagaimana jika iklan bergenre erotis telah berhasil membuat golongan tertentu merasa ingin menumpahkan hasratnya sedangkan mereka tidak ada “objek” untuk itu. Sampai akhirnya keinginan itu berujung pada perilaku seks bebas yang dinilai sangat tidak terpuji.
Beberapa iklan yang akan kita angkat dalam kegiatan literasi adalah iklan yang adegan erotisnya diperankan oleh perempuan, oleh lelaki dan oleh keduanya. Pertama, Iklan Pompa Air Shimizu, Iklan yang berdurasi 30 detik menampilkan lelaki dengan mimik lemes dengan perempuan yang memakai pakaian terbuka. Sampai akhirnya si perempuan memutuskan membeli obat kuat untuk si lelaki, tetapi sesampainya di toko obat, ketika si perempuan berkata “mancur nggak nih?” yang menjawab adalah pemilik toko sebelah yang ternyata menjual pompa air yang mancurnya kuat. Iklan ini benar-benar menunjukan adegan erotis apalagi ketika si perempuan berjoged centil dengan memakai baju yang basah. Dalam iklan ini, bintang utamanya adalah seorang perempuan yang sangat dengan jelas menunjukan adegan sensual dan erotis. Sampai pesan utama mengenai promosi pompa air dinilai kalah oleh adegan erotis yang ada dalam iklan tersebut. Kedua, Iklan Larutan Penyegar. Iklan ini menunjukan seorang atlet lelaki yang usai berenang. Ketika ia naik kedaratan untuk mengambil minuman penyegar, terlihat dengan jelas bahwa dia memperlihatkan alat vitalnya (walaupun memakai celana dalam, tetapi tetap terlihat bentuknya). Dalam iklan yang satu ini, bintang utamanya diperankan oleh lelaki. Walaupun ia tidak berperilaku yang aneh-aneh, tetapi cara dia berpakaian cukup menunjukan bahwa dia melakukan acting erotis. Masalah yang ada dalam iklan tersebut adalah ketidaktepatan dalam memilih adegannya. Karena kita tahu bahwa alat vital adalah privat, tetapi dalam iklan tersebut sangat ditampilkan kejelasannya, sehingga kami menilai iklan itu tidak terlalu baik. Ketiga, Iklan Tira Jeans. Iklan yang ditayangkan oleh sejumlah stasiun televisi dinilai tidak memperhatikan larangan mengenai ketetuan siara iklan, perlindungan kepada anak-anak dan remaja, serta EPI. Dalam iklan tersebut ditemukan penayangan adegan seorang perempuan membuka pintu toilet yang sedang digunakan oleh seorang pria. Kemudian si perempuan memberikan kode dengan meletakkan jari telunjuk di bibirnya agar pria tersebut diam, dan selanjutnya perempuan itu ikut masuk ke dalam toilet yang sama. Setelah adegan tersebut iklan menampilkan tulisan "guess what happens next". Atas tindakan penayangan tersebut, KPI Pusat memutuskan memberikan peringatan tertulis agar segera melakukan evaluasi internal pada program dengan cara melakukan editing pada adegan yang dimaksud. KPI Pusat juga telah menerima surat No. 1059/UM-PP/VII/2012 tertanggal 2 Juli 2012 dari P3I yang isinya berpendapat bahwa iklan tersebut berpotesi melanggar EPI Bab IIIA No. 1.26 (Pornografi dan Pornoaksi) yang berbunyi " Iklan tidak boleh mengekploitasi erotisme atau seksualitas dengan cara apa pun".

B.     SASARAN
Sasaran kami dalam melangsungkan kegiatan literasi iklan ini adalah sekumpulan mahasiwa prodi Komunikasi dan Konseling Islam dari Fakultas Agama Islam. Mahasiswa angkatan 2014 yang terdiri dari 7 orang. Alasan kami memilih sekumpulan mahasiswa KKI tersebut dikarenakan animo yang cukup kuat karena adanya kesamaan konsentrasi dari tema yang akan kami angkat. Karena sama-sama “bermain” dengan kajian ilmu komunikasi, kelompok mahasiwa KKI bersedia untuk menjadi peserta kami dalam melaksanakan literasi iklan ini. Nama-nama peserta FGD :
1.      Iik
2.      Su’aibah
3.      Azizah
4.      Ninda
5.      Ayunda
6.      Zulfikar
7.      Tiara

C.    METODE
FGD adalah salah satu metode perolahan data yang biasa digunakan dalam penelitian sosial. Suatu proses pengumpulan data dan informasi yang sistematis mengenao suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok (Irwanto, 2006). FGD tidak sama hal nya dengan wawancara, karena pada dasarnya FGD bukan untuk bertanya tetapi mengemukakan suatu persoalan, suatu kasus, suatu kejadian untuk dijadikan sebagai bahan diskusi. Akhir yang diharapkan dari sebuah FGD adalah bukan seperti kesepakatan bersama atau solusi, karena jika seperti itu tidak tepat untuk dikatakan sebagai FGD, melainkan rapat. Dengan menyoal permasalahan atau kasus tertentu, lalu dibincangkan dalam bentuk forum diskusi diharapkan mampu membuat peserta yang terlibat merasa mempunyai ilmu yang lebih luas lagi. Dalam kegiatan ini, kami telah membagi tugas kepada tiap anggota agar maksimalnya FGD ini berlangsung.
1.      Moderator                         : Hanisah
2.      Pencatat proses                  : Meidiana
3.      Penghubung peserta          : M. Quraish
4.      Bloker                                : Febri
5.      Petugas logistik                 : Gusti

Tempat
Dalam kegiatan literasi iklan ini, kami mengambil selasar sportorium kampus UMY khususnya sayap kanan. Alasan memilih tempat ini karena dirasa cukup mudah untuk diakses karena masih berada disekitar kampus terpadu UMY. Sehingga munculnya kendala mengenai jarak tidak akan ada atau dapat diminimalisir.
Kronologi
Kegiatan literasi iklan ini dimulai pada pukul 13.38 sampai 14.12 WIB. Kegiatan yang berlangsung dengan lancar ini kami awali dengan sesi pembukaan dan perkenalan anggota kelompok. Setelah itu dilanjut dengan menyampaikan hal yang berkaitan dengan topik yang akan didiskusikan. Setelah beberapa menit kemudian, kami mengalami kendala teknis yaitu butuhnya pengeras suara karena pada saat itu hujan turun dengan derasnya sehingga daya dengar sedikit terhambat. Jadi kami memutuskan untuk menunggu hujan reda lalu dilanjutkan lah kembali diskusi tersebut. FGD berjalan dengan lancar, setelah kami menjabarkan beberapa point yang akan kami angkat, para peserta FGD dengan cepat dapat merespon sehingga diskusi berjalan dengan seru. Ramainya kegiatan diskusi diawali oleh pendapat dari 2 peserta kami yang aktif menyampaikan pendapatnya, hal itu membuat peserta yang lain merasa terpancing untuk ikut berargumen sehingga diskusi semakin menyenangkan. Di akhir diskusi, kami meminta kesediaan peserta untuk berfoto bersama kami, sebagai bentuk bukti atau dokumentasi atas terselenggaranya kegiatan ini.

D.    PEMBAHASAN
Seyogyanya, tiap tayangan yang disuguhkan oleh media pasti mempunyai pesan positif yang ingin disampaikan. Tetapi, karena media belum telalu mahir dalam membuat “kemasan” yang cocok, jadi lah beberapa produk dinilai tidak koheren akan apa yang diiklankan dengan bagaimana kegunaan produk itu sendiri. Apalagi, takaran menarik atau tidaknya sebuah iklan sudah mengalami pergeseran. Seperti contoh : perempuan selalu dijadikan alat sebagai komposisi dalam mempromosikan sesuatu. Hampir dari semua jenis produk selalu dikaitkan dengan perempuan, padahal produk yang ditawarkan tersebut tidak mempunyai korelasi dengan perempuan itu sendiri. Kita bisa melirik bagaimana iklan parfum Axe mengadopsi perempuan untuk “bermain” di sana, walaupun hanya sebagai pemanis. Semakin maraknya iklan bergenre erotis membuat beberapa pihak merasa kurang nyaman, termasuk elit perempuan. Iklan yang ditampilkan tanpa memperhatikan bagaimana pola dan format dari iklan itu sendiri menyebabkan munculnya anomali-anomali yang diterima oleh masyarakat. Adalah suatu bentuk yang patut untuk dikemas lebih rapi lagi jika media belum bisa mengatur penayangan mengenai iklan-iklan yang ada.
Persepktif erotisme dari kacamata masyarakat
Iklan yang ditampilkan di jam-jam ramai menyebabkan semua kalangan masyarakat dari semua segmen dapat menikmati tayangan itu. Lalu bagaimana jika iklan bergenre erotis itu ditonton oleh anak dibawah umur? Tentu jika terus-menerus mengonsumsi tayangan seperti itu akan mempengaruhi tumbuh kembang si anak, itu mengapa peran orangtua sangat penting untuk mendampingi anaknya saat menonton televisi.
Kita dapat mengamati sebagian besar penguasa panggung media didominasi oleh perempuan. Beberapa orang setuju jika eksisnya perempuan dewasa ini merupakan sebuah bentuk kebebasan dari termarginalnya kaum perempuan karena musuh lama (laki-laki). Tapi kita juga perlu melirik dari sisi yang lain, dengan semakin maraknya iklan berbau sensual ditayangkan di televisi mengakibatkan anggapan bahwa “perempuan sebagai objek seksual” memang benar-benar terbukti. Bagaimana perempuan diperalat dan dikonstruk oleh stakeholder untuk berpenampilan dan berpakaian tertentu untuk menarik masyakarak agar bisa mengenal produk tertentu.
Media dewasa ini sudah berhasil menduduki ambang dewa karena media selalu dianggap pihak yang paling tahu dan lebih dulu tahu, sehingga masyarakat atau audiens yang kurang kritis hanya bisa menelan mentah-mentah mengenai apa yang telah dipersembahkan oleh media. Berbicara tentang iklan, kita diingatkan bahwa iklan sedang mengalami kejayaan pada media konvensional atau salah satunya adalah televisi. Media, termasuk televisi sudah menjadi panutan akan bagaimana masyarakat berperilaku. Dari televisi kita bisa menyimpulkan bahwa perempuan itu cantik, hal ini disebabkan karena televisi melalui tayangannya telah berhasil menciptakan anggapan baru tentang seperti apa perempuan yang bisa dikategorikan “cantik”. Seiring dengan perkembangan dan keinginan perempuan untuk meraih kategori cantik, media dan iklan semakin gencar memanfaatkan kesempatan ini. Hingga jadilah ada beberapa perusahaan yang menawarkan solusi cantik untuk secara temporer menghapuskan beberapa pengendala kecantikan seperti kulit yang kurang cerah, perut yang tidak ramping dll. Tidak sedikit juga iklan dikemas menggunakan “box” hiperbola sampai tidak segan untuk menunjukan bagian privat seperti dada, paha, bokong dan lain-lain.
Pro dan Kontra akan tubuh perempuan
Perempuan ketika sudah terbebas dari belenggu musuh lama atau laki-laki sebenarnya harus menghadapi kendala yang baru yaitu kaum perempuan itu sendiri. Karena bagaimana pun ada beberapa kalangan yang kurang pro terhadap acting sensual yang diperankan oleh perempuan”, ujar Iik, salah satu peserta literasi iklan kami.

Melihat tanggapan Iik, ada peserta lain yang menyatakan persetujuan akan tanggapan itu.

Perempuan dan laki-laki sebenarnya sedang sama-sama dimanfaatkan oleh industri kapitalis, sampai ada beberapa produk yang secara fungsi tidak ada kaitannya dengan perempuan tetapi perempuan tetap digunakan sebagai “jimat” untuk mempromosikan produk tersebut”, pungkas Ayunda, peserta kami yang lain.

 Pendapat lain datang dari Azizah, dia menyuarakan bahwa
“peningkatan kasus pemerkosaan di Indonesia salah satunya disebabkan oleh tayangan-tayangan yang secara gamblang menunjukan adegan erotis sehingga mengundang syahwat kaum laki-laki.”  

Di sisi lain, seorang Zulfikar menanggapi pendapat Azizah dengan menggunakan kacamata gender, Zulfikar berkata:
“Kita tidak bisa mentah-mentah menyalahkan laki-laki jika terjadinya kasus pemerkosaan, karena datangnya nafsu bisa kapan saja,”

kemudian Azizah kembali menanggapi dengan menyampaikan pendapat bahwa “Seharusnya laki-laki bisa mengontrol nafsunya, jangan sampai memakan korban.”


Beberapa peraturan EPI yang telah dilanggar
Perspektif kritis memang dibutuhkan untuk dapat melawan pengaruh-pengaruh buruk yang disuguhkan oleh televisi. Dengan menjadi penonton yang aktif, kita dapat dengan mudah menyingkirkan efek-efek negatif yang akan mempengaruhi kehidupan kita. Dari beberapa argumen di atas, kita dapat menilai bahwa media masih belum mampu untuk memfilter dan mengkotak-kotakkan tayangan berdasarkan pertimbangan usia dan waktu penayangannya.
Jika ingin menampilkan iklan yang berbau erotis dan termasuk kedalam segmen dewasa, akan lebih baik jika ditampilkan di jam-jam yang sekiranya hanya orang cukup umur saja yang sedang menonton itu.
Seperti yang telah dituliskan pada bab pendahuluan bahwa iklan yang agak “nyeleweng” seperti iklan pompa air simizhu, iklan larutan penyegar dan iklan tira jeans telah melenceng dari etika penyiaran di Indonesia. Diatur dalam Etika Pariwara Indonesia (EPI) berdasarkan isi dan ragam iklan bahwa ketiga iklan di atas telah melakukan penyelewengan mengenai :
-          Isi iklan yang mengandung pronografi dan pornoaksi
-          Isi iklan yang kadar hiperbola terlalu tinggi
-          Isi iklan yang tidak aman jika disuguhkan di jam ramai sehingga anak-anak ikut terlibat.
    Berdasarkan ragam iklan :
-          Iklan pompa air simizhu seolah menawarkan obat kuat dibandingkan produk utama itu sendiri.
    Di atas hanya sebagian permasalahan yang ada pada dunia iklan, tentu masih banyak anomali yang belum bisa disikapi dengan baik. Televisi hanya menomorsatukan profit tanpa memperhatikan akan seperti apa dampak yang terjadi di masyarakat. Apalagi televisi banyak dinikmati oleh masyarakat golongan C yang hanya bisa mengandalkan televisi sebagai media hiburan yang terjangkau dan memadai. Jika anak kecil menonton televisi tanpa adanya pengawasan dari orangtua, ini tentu akan menghambat perkembangan anak. Apalagi kita tahu bahwa anak kecil lebih suka meniru, sehingga apa pun yang dia lihat akan dipraktekannya

E.     KESIMPULAN

Iklan dan erotisme sudah menjadi dua hal yang tak dapat dipisahkan. Dirasa kurang lengkap jika iklan dalam mempromosikan suatu produk tidak mengadopsi erotisme untuk beracting. Ada beberapa rumusan EPI yang telah dilanggar oleh beberapa iklan dan hal ini belum ada finalisasi yang baik. Sehingga ini menyebabkan makin maraknya iklan bergenre sama yang sedang berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik di layar kaca.
Berbicara tentang erotisme kita diingatkan bahwa pihak yang selalu terlibat dalam hal ini adalah perempuan, perempuan dengan segala yang ia punya seolah dimanfaatkan habis-habisan oleh industri kapitalis. Sehingga muncul anggapa apakah iklan itu ajang untuk promosi atau kah hanya “memperdagangkan” tubuh semata.
Mempunyai pola pikir yang kritis sangat dibutuhkan di era sekarang, agar masyarakat tidak dengan mudah menelan mentah-mentah mengenai pesan yang telah disampaikan oleh media.


DAFTAR PUSTAKA

Buku :
Hoed, Benny. 2001. Logika Tuyul Ke Erotisme. IndonesiaTera.
Komisi Kateketik KWI. 1997. Peran Media dalam Pendidikan Iman.         Yogyakarta : Kanisius

 Prasetyo, Eko dan Suparman Marzuki. 1997. Perempuan dalam Wacana Perkosaan, Yogyakarta : Pustaka Pelajar Offset.

Ramadlan, Azka dkk. 2013. Kolonialisasi Media Televisi. Yogyakarta : Buku Litera.

Jurnal :
Fakultas Desain Komunikasi Visual, Universitas Multimedia Nusantara. 2011. Dekonstruksi, Rekonstruksi Sosial : Film dan Pesan-Pesan Tersurat. Jurnal ilmiah, Vol. 3 No. 1

Website :